Google search engine
Beranda Daerah Harga Voer Naik, Peternak Ayam Kampung Siasati dengan Pakan Alternatif

Harga Voer Naik, Peternak Ayam Kampung Siasati dengan Pakan Alternatif

Achmad Busri, salah seorang peternak ayam kampung asal Kelurahan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, saat memberikan makan ayam ternaknya, Sabtu (14/01/2023) pagi. (foto : Udin)

Natuna, SinarPerbatasan.com – Peternak ayam kampung skala rumahan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengeluhkan naiknya harga pakan ayam di pasaran.

Hal itu di sampaikan oleh Achmad Busri, salah seorang peternak ayam kampung skala rumahan di RT 003 RW 04 Padang Tulung, Kelurahan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.

Menurut Mat Busri (sapaan akrabnya), tingginya harga voer ayam, membuat dirinya sulit untuk mendapatkan untung dari penjualan hasil panen ayam miliknya.

“Harga voer udah naik lagi, dari yang tadinya Rp 400 ribu, naik Rp 450 ribu, lalu naik lagi Rp 500 ribu, kini udah naik lagi sampai Rp 530 ribu, memang teruk (parah, red),” ucap Mat Busri, saat ditemui sinarperbatasan.com, di kandang ayam miliknya, Sabtu (14/01/2023) pagi.

Kata Mat Busri, naiknya harga pakan ayam tidak di imbangi dengan naiknya harga daging ayam kampung di pasar Ranai.

“Harga voer naik, tapi pembeli ayam tidak mau menaikkan harga, mereka masih ngambil dengan harga Rp 45 ribu perkilo dari kami, kan nggak imbang,” keluh Mat Busri.

Sama halnya harga daging ayam kampung, harga telur ayam kampung pun tidak mengalami kenaikan, kendati harga pakannya naik. Saat ini, sambung dia, harga telur ayam kampung di pasaran hanya Rp 3 ribu perbutir.

Untuk menghindari resiko kerugian, Mat Busri terpaksa harus memutar otak, dengan mencari pakan alternatif untuk ayam-ayam kampung miliknya.

Batang sagu menjadi pilihan Mat Busri, untuk menekan biaya pakan terhadap ratusan ekor ayam miliknya.

“Voer tetap kita kasih, tapi porsinya kita kurangi. Karena kalau tidak pakai voer, ayam lambat besar dan kurus. Jadi komposisinya, setengah voer dan setengah sagu parut,” terang Bapak 4 orang anak tersebut.

Lanjut Mat Busri, selain diberikan pakan tambahan dari batang sagu, ia juga memberikan pakan alternatif untuk ayam miliknya, seperti kangkung, buah nangka busuk yang direbus, kelapa hingga nasi sisa dari limbah rumah makan. (Udin)

Editor : Imam Agus

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments