Saat Rumah Terendam, Seragam Tetap Dikenakan: Trauma Healing Polri Merawat Mental Personel Aceh Tamiang

0
8
Google search engine

Aceh Tamiang, SinarPerbatasan.com — Banjir tidak hanya merendam rumah dan harta benda, tetapi juga menyisakan kelelahan batin bagi mereka yang tetap berdiri di garis tugas. Di tengah bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh Tamiang, para personel Polri tetap menjalankan kewajiban, meski sebagian dari mereka juga menjadi korban.

Rabu (21/1/2026), perhatian itu datang dalam bentuk yang berbeda. Tim Trauma Healing Mabes Polri hadir memberikan pendampingan psikologis bagi personel Polres Aceh Tamiang, sebagai bagian dari upaya memulihkan ketahanan mental pascabencana.

Dipimpin oleh AKBP Astiadi Prahastomo, tim dari Biro Psikologi SSDM Polri menyapa para personel bukan dengan instruksi tugas, melainkan dengan ruang aman untuk berbagi, menenangkan, dan menguatkan kembali mental yang terkuras oleh tekanan situasi.

“Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Bapak Kapolres Aceh Tamiang dan jajaran, sekaligus bentuk kepedulian kami dari Biro Psikologi SSDM Polri untuk memulihkan kondisi psikologis personel, khususnya di Polres Aceh Tamiang,” ujar AKBP Astiadi.

Menurutnya, beban personel pascabencana sering kali berlipat. Di satu sisi mereka harus hadir membantu masyarakat, di sisi lain mereka juga bergulat dengan dampak bencana yang menimpa keluarga dan rumah mereka sendiri.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

“Melalui trauma healing dan pendampingan ini, kami berharap personel bisa kembali lebih rileks, memiliki ketahanan mental yang lebih baik, serta siap menghadapi tugas-tugas ke depan,” tambahnya.

Cerita itu nyata dirasakan Kapolsek Seruai, AKP Teuku Davean. Ia mengungkapkan bahwa banjir tidak hanya terjadi di wilayah tugasnya, tetapi juga di rumah pribadinya.

“Rumah saya terdampak banjir. Untuk sementara belum bisa ditinggali karena masih berlumpur dan dalam tahap pembersihan,” ungkapnya pelan.

Namun di tengah kondisi tersebut, ia tetap menjalankan tugas sebagai perwira Polri. Bagi AKP Davean, kegiatan trauma healing ini menjadi ruang pemulihan yang sangat berarti.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan menambah semangat saya dalam melaksanakan dinas. Kami juga berharap kegiatan seperti ini bisa berlanjut ke episode-episode selanjutnya,” tuturnya.

Lebih dari sekadar sesi pendampingan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan tanggung jawab besar, ada manusia yang juga membutuhkan perhatian, pemulihan, dan dukungan emosional.

Melalui trauma healing ini, Polri menegaskan komitmennya tidak hanya fokus pada penanganan bencana secara operasional, tetapi juga pada kesehatan mental personel. Sebab, ketangguhan Polri dalam melayani masyarakat dimulai dari personel yang sehat secara fisik dan kuat secara mental. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini