72 Jam Dikurung Ombak Natuna: Ketika Minyak dan Manusia Menantang Amukan Laut

0
11
Kapal Pengangkut minyak mentah terlihat terombang-ambing ditengah ganasnya ombak laut Natuna.
Google search engine

Natuna, SinarPerbatasan.com – Laut Natuna tak selalu ramah. Dalam tiga hari terakhir, hamparan birunya berubah menjadi arena pertarungan sunyi antara teknologi manusia dan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Di tengah gulungan ombak setinggi empat meter (setara dua lantai rumah), ribuan barel minyak terkunci di perut bumi Lapangan Forel Terubuk. Bukan karena mesin rusak, bukan pula karena kesalahan manusia, melainkan karena dinding air yang terus menghalangi langkah.

Sabtu (13/12/2025) pagi, ketegangan itu akhirnya berakhir.

Selama 72 jam, kru di Lapangan Forel Terubuk yang dioperasikan Medco Natuna hidup dalam siaga. Sebuah kapal tanker raksasa yang seharusnya menjadi “rumah sementara” bagi minyak mentah itu terpaksa berulang kali mundur.

Setiap upaya mendekat selalu disambut amukan ombak, dan angin musim utara yang tak kenal kompromi.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menggambarkan situasi tersebut dengan sederhana namun sarat makna, “kejar-kejaran dengan ombak besar,” katanya, dikutip dari ruangenergi.com, edisi 13 Desember 2025.

Setiap kali tanker mencoba merapat untuk melakukan proses lifting (pengangkatan minyak), ombak datang menghantam lambung kapal, memaksa nakhoda memilih keselamatan daripada ambisi.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Risiko menyambungkan pipa penyalur di tengah laut yang berguncang, dianggap terlalu mahal untuk dibayar.

Akibatnya, keran produksi seolah tercekik. Ribuan barel minyak per hari (BOPD) yang seharusnya mengalir ke kapal pengangkut terpaksa tertahan. Di darat, angka-angka produksi menunggu. Di laut, alam memegang kendali penuh.

Namun, alam pun punya jeda.

Sabtu pagi itu, langit Natuna perlahan berubah bersahabat. Angin melemah, ombak yang selama berhari-hari mengamuk mulai merunduk. Sebuah celah kecil di tengah musim angin utara, momen langka yang tak boleh terlewat.

“Alhamdulillah, hari ini laut di Natuna sedang reda,” ujar Djoko dengan nada lega.

Tanpa menunggu lama, tanker kembali bergerak. Kali ini tanpa diusir ombak. Proses lifting yang tertunda selama tiga hari akhirnya dieksekusi. Pipa tersambung, minyak mengalir, dan ketegangan yang menggantung di udara laut Natuna perlahan mencair.

Bagi industri hulu migas, peristiwa ini bukan sekedar urusan memindahkan cairan hitam dari perut bumi ke perut kapal. Ini adalah pengingat, bahwa di balik angka produksi dan target pasokan energi nasional, ada perjuangan melawan ketidak pastian alam yang tak selalu terlihat.

Drama 72 jam itu kini usai. Minyak dari Forel Terubuk kembali berlayar meninggalkan Natuna. Sementara ombak, setidaknya untuk sementara waktu, memilih berdamai. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini