Ketika Warga Membutuhkan Darah, Lanud RSA Hadir sebagai Penolong di Garis Terdepan

0
5
Google search engine

Natuna, SinarPerbatasan.com — Di Natuna, kepedulian sering kali lahir dari tempat-tempat yang tak disangka. Kamis pagi (11/12/2025), sebuah pesan masuk ke jejaring WhatsApp yang dikelola masyarakat.

Pesan itu singkat, namun mendesak: seseorang membutuhkan donor darah golongan B. Di balik layar, harapan pun berputar mencari jawaban—dan pagi itu, jawaban datang dari Lanud Raden Sadjad (RSA).

Begitu menerima informasi tersebut, Kadisops Lanud RSA Kolonel Pnb Dion Aridito, S.T., M.M., langsung bergerak cepat. Tanpa menunggu lama, ia meneruskan kabar itu ke WAG Lanud RSA, menggerakkan jejaring internal yang sudah terbiasa dengan respons kilat untuk kebutuhan kemanusiaan.

Di ruang terpisah, Kepala RSAU Lanud RSA, dr. Yuniati Wisma Karyani, bersama Letkol Kes dr. Dwi Indra Darmawan, M.Kes., Sp.OT., Subsp.P.L (K) Hip & Knee., segera melakukan pendataan.

Nama-nama personel dikelompokkan sesuai golongan darah, dan dalam hitungan menit, empat anggota siap diterjunkan.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Dari proses seleksi itu, dua prajurit akhirnya dinyatakan memenuhi syarat untuk mendonorkan darah golongan B. Mereka kemudian bergerak menuju Unit Transfusi Darah RSUD Natuna.Tanpa sorotan, tanpa publikasi, hanya niat tulus untuk membantu sesama.

Komandan Lanud RSA, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., menegaskan bahwa aksi semacam ini bukanlah hal baru bagi keluarganya di Lanud RSA.

“Selama kami mampu menyumbangkan darah dan menyelamatkan warga, Lanud RSA akan selalu siap,” ujarnya.

Aksi cepat ini merupakan wujud nyata semangat TNI AU AMPUH: Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis. Bagi prajurit Lanud RSA, menjadi penolong bukanlah tugas tambahan, melainkan bagian dari napas pengabdian yang terus mereka jaga.

Di tengah kesibukan operasi udara dan rutinitas kedinasan, secarik pesan di WhatsApp kembali mengingatkan bahwa di Natuna, solidaritas tetap hidup.

Dan hari itu, dua kantong darah menjadi bukti bahwa kepedulian tidak harus besar, yang penting hadir tepat saat dibutuhkan. (Erwin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini