50 Tahun Kemitraan Energi: Industri Hulu Migas Menggerakkan Ekonomi dan Masa Depan Masyarakat di Ujung Negeri

0
132
Terlihat UMKM tumbuh di kawasan ruang terbuka hijau Pantai Piwang Natuna, dibangun dari hasil kolaborasi antara Industri Hulu Migas dan Pemerintah. (Foto : Erwin Prasetio)
Google search engine

Natuna, SinarPerbatasan.com – Selama ini, industri Hulu Minyak dan Gas Bumi (Migas) kerap dipersepsikan semata-mata sebagai sektor yang bertugas mengejar target lifting migas nasional. Aktivitasnya identik dengan pencarian cadangan, pengeboran, hingga pengangkutan minyak dan gas, sebuah rangkaian kerja teknis yang berlangsung jauh dari sorotan dan tidak banyak diketahui masyarakat luas. Dari sumur-sumur migas di daerah terpencil, hasil produksi kemudian mengalir ke Industri Hilir untuk diolah dan didistribusikan, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Tak sedikit pula anggapan bahwa manfaat Industri Migas hanya berujung pada penerimaan negara yang masuk ke kas APBN, dikelola pemerintah, dan baru dirasakan masyarakat secara tidak langsung melalui program pembangunan. Padahal, di balik perannya sebagai penggerak ekonomi Nasional, Industri Hulu Migas juga memikul tanggung jawab sosial yang nyata dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang kerap disandingkan dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), Industri Hulu Migas yang diprakarsai oleh Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) hadir lebih dekat dengan warga di sekitar wilayah operasi. Program ini tidak hanya sebatas menjadi pelengkap kegiatan produksi, tetapi merupakan wujud komitmen untuk mendorong kesejahteraan, kemandirian, dan pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, peran Industri Hulu Migas tidak berhenti pada aktivitas produksi semata. Kehadirannya telah memberikan dampak signifikan bagi pembangunan daerah, mulai dari penguatan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pelatihan UMKM, pengembangan sektor pariwisata, penyediaan sarana olahraga, hingga terbentuknya tatanan sosial yang lebih inklusif dan produktif bagi masyarakat.

Salah satu bukti nyata kontribusi tersebut terlihat dari pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pantai Piwang, yang terletak di jantung Kota Ranai, Kabupaten Natuna. Kawasan yang sebelumnya hanya merupakan bentang pantai biasa, kini bertransformasi menjadi taman kota yang hidup, ramah keluarga, dan menjadi ruang interaksi sosial masyarakat. Kehadiran Pantai Piwang bukan sekadar mempercantik wajah kota, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang langsung dirasakan warga.

Terlihat anak-anak di daerah perbatasan sedang bermain gembira di kawasan ruang terbuka hijau Pantai Piwang Natuna, yang dibangun oleh SKK Migas, KKKS dan Pemerintah. (Foto : Erwin Prasetio)

Efek domino dari pembangunan RTH Pantai Piwang pun terasa luas. Kawasan ini menjelma menjadi pusat aktivitas ekonomi baru dengan lahirnya puluhan hingga ratusan pelaku UMKM, mulai dari pedagang kuliner, minuman, hingga usaha kreatif lokal. Hingga kini, Pantai Piwang masih menjadi lokasi andalan masyarakat Natuna untuk mengais rezeki, terutama pada sore hari dan akhir pekan.

Manfaat kehadiran Pantai Piwang juga tercermin dari kisah-kisah warga yang menggantungkan penghidupan di kawasan tersebut. Salah satunya Zuhir, warga Sedanau, yang kini menikmati berkah ekonomi dari ramainya aktivitas masyarakat di ruang terbuka hijau itu.

“Alhamdulillah, sejak ada Pantai Piwang, saya bisa membuka usaha sewa mobil listrik dan sepeda listrik untuk anak-anak,” ujar Zuhir saat ditemui di Pantai Piwang, Ranai, Minggu (1/2/2026) sore.

Zuhir merupakan satu dari puluhan pelaku UMKM yang lahir seiring bertransformasinya Pantai Piwang menjadi alun-alun sekaligus wajah Kabupaten Natuna. Setiap sore hingga malam hari, ia membuka usaha penyewaan mainan mobil listrik dan sepeda listrik, jenis permainan yang kini menjadi favorit anak-anak yang datang bersama keluarga mereka.

Keramaian pengunjung, terutama pada akhir pekan, menjadi denyut utama usaha tersebut. Bagi Zuhir dan pelaku UMKM lainnya, Pantai Piwang bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan ruang hidup yang memberi peluang usaha, penghasilan, dan harapan baru bagi masyarakat lokal.

Dari kawasan ruang terbuka hijau Pantai Piwang Natuna, UMKM tumbuh pesat, salah satunya usaha sewa mobil mainan listrik dan sepeda listrik yang tampak laris manis diserbu pengunjung. (Foto : Erwin Prasetio)

Manfaat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) industri hulu migas tak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi warga perantauan yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut. Di taman seluas kurang lebih lima hektare atau 50.000 meter persegi itu, aktivitas ekonomi tumbuh seiring ramainya kunjungan masyarakat.

Salah satunya dirasakan Rahman, warga perantau asal Kota Semarang, Jawa Tengah. Sejak beberapa waktu terakhir, ia memilih mangkal di kawasan Pantai Piwang untuk berjualan pentol ikan dan es kantong. Setiap sore hingga malam, lapaknya tak pernah sepi pembeli, terutama anak-anak dan keluarga yang menikmati waktu luang di kawasan itu.

“Kalau di sini habis terus, pokoknya asal nggak hujan. Kadang jam tujuh malam sudah habis,” ujar Rahman saat ditemui di lokasi. Menurutnya, tingginya kunjungan masyarakat membuat dagangannya laris manis, terutama karena anak-anak gemar jajan pentol dan es.

Rahman mengaku, berjualan dengan cara mangkal di kawasan Pantai Piwang jauh lebih menguntungkan dibandingkan harus berkeliling. Selain menghemat biaya operasional, seperti bahan bakar, pusat aktivitas masyarakat yang terpusat di satu lokasi membuat peluang penjualan semakin besar.

“Kalau mangkal kan nggak habisin minyak motor. Anak-anak juga lebih banyak di sini kalau sore, ngumpul di satu tempat,” pungkasnya sembari tersenyum bahagia.

Kisah Rahman menjadi gambaran nyata bagaimana keberadaan fasilitas publik hasil dukungan PPM industri hulu migas mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, menciptakan peluang usaha, serta memberikan dampak sosial yang berkelanjutan bagi berbagai lapisan masyarakat.

Para pasukan oranye (petugas kebersihan) turut kecipratan berkah atas terbangunnya ruang terbuka hijau Pantai Piwang hasil kolaborasi Industri Hulu Migas dengan Pemerintah. (Foto : Erwin Prasetio)

Tak hanya menghadirkan ruang rekreasi dan menggerakkan roda ekonomi pelaku usaha kecil, keberadaan Pantai Piwang juga memberi harapan baru bagi warga dengan latar pendidikan terbatas. Ruang terbuka hijau ini secara perlahan membuka lapangan kerja yang berkelanjutan, terutama bagi mereka yang selama ini sulit mengakses pekerjaan formal.

Setiap pagi dan sore, puluhan petugas kebersihan tampak menyusuri kawasan Pantai Piwang. Mereka memastikan area tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung. Para petugas ini direkrut oleh Pemerintah Kabupaten Natuna melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), seiring dengan dibukanya kawasan tersebut.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Samsinar, warga Ranai, menjadi salah satu di antara mereka. Sejak taman Pantai Piwang pertama kali dibuka, ia sudah mengabdikan diri menjaga kebersihan kawasan itu.

“Udah lama, sejak taman ini dibuka,” ujarnya singkat, Senin (02/02/2026) pagi, sembari melanjutkan pekerjaannya.

Bagi Samsinar dan rekan-rekannya, Pantai Piwang bukan sebatas tempat bekerja, tetapi juga sumber penghidupan yang memberi kepastian. Terlebih, saat ini puluhan petugas kebersihan tersebut telah diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu. Status itu menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat sebagian besar dari mereka hanya mengenyam pendidikan dasar.

Rasa syukur pun tak bisa disembunyikan. Dengan penghasilan tetap dan status kepegawaian yang lebih jelas, mereka kini dapat menopang kebutuhan keluarga dengan lebih tenang. Sebuah dampak sosial nyata dari pembangunan kawasan Pantai Piwang yang tak sekadar indah dipandang, tetapi juga bermakna bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Taman Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna juga sering dijadikan untuk acara-acara besar seperti Pawai Budaya oleh Pemerintah dan Komunitas setempat. (Foto : Dok. Dinas Pariwisata Natuna)

Taman Pantai Piwang kini tak hanya menjadi ruang hijau yang nyaman, tetapi juga jantung kegiatan masyarakat dan pemerintah di Natuna. Luasnya yang lapang dan kebersihannya yang terjaga, menjadikan taman ini pilihan utama untuk berbagai acara, mulai dari upacara peringatan HUT RI hingga pagelaran budaya dan keagamaan seperti tausiyah akbar. Tak jarang pula, lapangan di taman ini dipenuhi riuhnya turnamen olahraga, dari bola voli, tenis, hingga sepak takraw dan bahkan pertandingan domino.

Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menyoroti manfaat ganda yang hadir berkat kolaborasi Pemda dengan SKK Migas dan KKKS yang beroperasi di wilayah Natuna.

“Taman Pantai Piwang hasil kolaborasi ini benar-benar multi fungsi. Ada taman bermain, sarana olahraga, tempat usaha masyarakat, dan berbagai acara besar dari Pemda, TNI, hingga Polri selalu digelar di sini,” ujar Cen Sui Lan, belum lama ini.

Bagi warga dan pengunjung, Pantai Piwang bukan sekadar taman. Ia adalah tempat berkumpul, berolahraga, menimba ilmu, hingga menyaksikan pertunjukan budaya. Semua aktivitas itu berjalan beriringan, menciptakan ruang publik yang hidup, inklusif, dan memberi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Terpisah, Syamsuriana, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna sekaligus aktif dalam kegiatan sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, menilai Taman Pantai Piwang memiliki desain yang sangat ramah anak.

“Menurut saya, tempat ini termasuk salah satu taman yang sangat ramah anak. Saya sendiri sering mengajak kedua putri saya bermain di sini. Mereka masih kecil, tapi saya merasa aman dan nyaman,” ujarnya sambil tersenyum.

Ruang terbuka hijau Pantai Piwang Natuna merupakan salah satu ruang publik yang sangat ramah anak dan ramah lansia. (Foto : Erwin Prasetio)

Sebagai seorang akademisi sekaligus ibu, Syamsuriana menekankan pentingnya ruang publik yang memperhatikan keselamatan dan perkembangan anak. Menurutnya, taman yang dirancang dengan baik tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga media edukasi informal, di mana anak-anak dapat belajar bersosialisasi, menghargai lingkungan, dan mengembangkan kreativitas sejak usia dini.

Sejak diresmikan pada tahun 2018, kawasan ruang terbuka hijau Taman Pantai Piwang telah menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai wilayah di Natuna. Pohon-pohon cemara yang teduh menghiasi taman, menciptakan suasana nyaman dan aman bagi keluarga yang ingin berkumpul.

Lebih dari sekadar taman, Pantai Piwang kini menjadi tempat bertemunya masyarakat dari beragam suku, ras, budaya, dan agama. Sebelum keberadaannya, warga biasanya berkumpul dalam kelompok masing-masing. Namun kini, tanpa disadari, taman ini mendorong terjadinya interaksi sosial yang harmonis dan inklusif. Anak-anak bermain bersama, orang tua saling bertukar cerita, sementara masyarakat yang sebelumnya jarang berinteraksi, kini menjalin silaturahmi yang memperkuat hubungan sosial yang berkelanjutan.

Taman Pantai Piwang membuktikan, bahwa ruang publik yang dirancang dengan baik bukan hanya soal keindahan atau fasilitas, tetapi juga tentang menciptakan ikatan sosial yang memperkuat komunitas dan membangun rasa kebersamaan di tengah keberagaman.

Terlihat ribuan orang dari berbagai suku, ras, agama dan budaya, berbaur menjadi satu di Taman Pantai Piwang Natuna, yang memang sangat nyaman dan aman untuk tempat rekreasi dan berinteraksi. (Foto : Erwin Prasetio)

Sebelumnya, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Yanin Kholison, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan di Kabupaten Natuna, melalui berbagai program CSR dan PPM.

Selain mendukung pengembangan Taman Pantai Piwang, SKK Migas dan KKKS juga telah menyalurkan PPM dalam bentuk pembangunan tribun di Lapangan Bola Kaki Sri Serindit, pengembangan Kawasan Geopark Natuna, beasiswa AKA Migas, pelatihan kerja bagi pelaku UMKM, serta penyediaan sarana pendidikan, kesehatan, kelestarian lingkungan, dan infrastruktur penting, yang mendukung kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Target-target kami sudah tercapai, dan kami berkomitmen untuk terus menjalankan program-program CSR maupun PPM di Natuna. Tentunya dengan fokus utama pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Yanin Kholison saat mengunjungi Natuna tahun lalu.

Melalui berbagai program tersebut, SKK Migas dan KKKS tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga memperkuat kesejahteraan sosial, keterampilan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan, sehingga dampak positifnya terasa langsung oleh warga setempat.

Dari Pantai Piwang hingga program-program pemberdayaan masyarakat, kisah nyata yang muncul menunjukkan bahwa kemitraan energi yang telah dibangun selama puluhan tahun tidak hanya mendorong produktivitas industri migas, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi langsung bagi masyarakat.

Selama 50 tahun perjalanan industri hulu migas di Indonesia, kolaborasi antara SKK Migas, KKKS, pemerintah daerah, dan masyarakat telah menorehkan inovasi dalam pembangunan, kesejahteraan, dan keberlanjutan.

Ke depan, kemitraan ini akan terus dikembangkan ke arah baru, memadukan energi, kreativitas, dan teknologi, untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif, inovatif, serta memberi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, membuktikan bahwa energi tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan membangun masa depan yang berkelanjutan. (Erwin Prasetio)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini