Efek Domino Industri Hulu Migas di Wilayah 3T, dari Pasukan Oranye hingga UMKM Pantai Piwang

0
403
Terlihat sejumlah petugas kebersihan di Ruang Terbuka Hijau Taman Pantai Piwang, saat membersihkan taman yang dibangun hasil kolaborasi Pemerintah bersama SKK Migas - KKKS. (Foto : Erwin Prasetio)
Google search engine

Natuna, SinarPerbatasan.com – “Permisi, Bang. Izin ya, biar kami sapu dulu”.

Sapaan lembut itu terdengar di antara desir angin laut dan rindangnya pepohonan di Ruang Terbuka Hijau Taman Pantai Piwang, Natuna, pada Sabtu pagi (07/02/2026). Seorang perempuan berseragam oranye tampak menunduk, menyusuri setiap sudut taman dengan sapu dan pengki di tangannya. Di balik gerakannya yang sederhana, tersimpan kisah perjuangan hidup yang jarang tersorot kamera.

Perempuan itu bernama Hasmiyati (54), salah satu anggota ‘pasukan oranye’ yang sejak delapan tahun terakhir setia menjaga kebersihan di Taman Pantai Piwang Natuna.

“Sudah lama, Bang. Sejak taman ini dibuka,” ujarnya singkat, sambil melanjutkan pekerjaannya.

Usai beristirahat sejenak, Hasmiyati mulai membuka cerita. Ia mengaku direkrut sebagai petugas kebersihan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna, seiring beroperasinya Taman Pantai Piwang, ruang publik yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Natuna, yang merupakan salah satu wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).

Taman ini bukan sebatas ruang terbuka hijau. Ia adalah buah kolaborasi Pemerintah Daerah Natuna bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di perairan Natuna, seperti Medco E&P Natuna Ltd dan Premier Oil Natuna Sea BV, melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Dibangun sejak 2017 dan diresmikan pada 28 Maret 2019, taman yang dilengkapi arena bermain dan fasilitas olahraga ini menghadirkan efek domino yang nyata bagi masyarakat sekitar, salah satunya membuka lapangan kerja bagi warga lokal.

Hasmiyati (54), salah seorang petugas kebersihan di Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna, yang ikut ketiban rezeki dari efek berganda program CSR/PPM Industri Hulu Migas di Kabupaten Natuna. (Foto : Erwin Prasetio)

“Padahal saya cuma tamat SD,” ucap Hasmiyati lirih, matanya berbinar.
“Tapi Alhamdulillah, bisa dapat pekerjaan tetap seperti sekarang ini,” sambungnya.

Bagi ibu dua anak asal Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut itu, pekerjaan sebagai petugas kebersihan bukan sekedar rutinitas harian. Ia adalah anugerah. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh harian lepas, yang penghasilannya tak menentu.

“Kalau ada yang nyuruh kerja, ya dapat duit. Kalau nggak ada, ya nganggur,” tuturnya jujur.
“Makanya saya bersyukur sekali bisa bekerja di sini, bisa bantu suami,” katanya.

Dari sapu dan pengki yang ia genggam setiap pagi, Hasmiyati kini bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus memastikan anak-anaknya tetap bersekolah. Sebuah perubahan kecil, namun bermakna besar bagi keluarganya.

Bahkan, roda kehidupan Hasmiyati terus bergerak ke arah yang lebih pasti. Perempuan berseragam oranye itu kini tak lagi berstatus tenaga kebersihan honorer. Ia mengaku telah resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

“Baru saja dilantik sama Bupati,” katanya, nyaris tak percaya.
“Nggak nyangka juga. Berkat kesabaran kami, sekarang diangkat jadi PPPK paruh waktu. Artinya status kami sekarang sudah jelas,” tutur Hasmiyati penuh rasa syukur.

Bagi Hasmiyati, pengangkatan tersebut bukan hanya soal administrasi kepegawaian. Ia adalah bentuk pengakuan atas kerja keras bertahun-tahun, tentang sapu yang tak pernah lepas dari genggaman, tentang pagi dan sore yang dihabiskan menjaga kebersihan ruang publik kebanggaan warga Natuna.

Rasa bahagia serupa juga dirasakan Fatimah, warga Ranai, yang turut bekerja sebagai petugas kebersihan di Taman Pantai Piwang. Ia mengaku nyaman dengan pekerjaannya, terlebih lingkungan kerja yang saling mendukung.

“Iya, senanglah. Kerjanya juga nggak berat untuk perempuan seperti kami ini,” sahut Fatimah, sambil tersenyum.

Di balik rindangnya pepohonan dan ramainya pengunjung, ada sekitar 20 orang petugas kebersihan yang saban hari bekerja dalam senyap. Mereka terbagi dalam dua sif, sepuluh orang bertugas di pagi hari dan sepuluh lainnya di sore hari. Mereka memastikan setiap sudut taman tetap bersih, rapi, dan nyaman bagi masyarakat.

“Untuk di Pantai Piwang ini, ada sekitar dua puluhan orang. Sepuluh orang kerja pagi, dan sepuluh lainnya kerja sore,” terangnya.

Kisah Hasmiyati dan Fatimah menjadi potret nyata bagaimana kehadiran Industri Hulu Migas melalui PPM tidak hanya berdampak pada pembangunan fisik, tetapi juga menghidupkan harapan, menciptakan kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan seperti Natuna.

Di balik megahnya Taman Pantai Piwang dan geliat Industri Migas di laut Natuna, ada cerita-cerita sederhana dari para pasukan oranye, cerita tentang kerja keras, rasa syukur, dan rezeki yang datang dari kolaborasi pembangunan yang berpihak pada rakyat.

Randy, salah seorang pedagang ikan hias di Taman Pantai Piwang, merupakan satu dari ratusan UMKM yang tumbuh berkat hadirnya Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna hasil kolaborasi Pemerintah bersama Industri Hulu Migas. (Foto : Erwin Prasetio)

Efek berganda (multiplier effect) dari pembangunan Ruang Terbuka Hijau Taman Pantai Piwang, hasil kolaborasi Pemerintah Daerah dengan Industri Hulu Migas, tak berhenti pada kisah-kisah tersembunyi para petugas kebersihan. Lebih jauh, ruang publik ini telah menjelma menjadi urat nadi ekonomi baru, yang menghidupi ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan perbatasan Natuna.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Sejak pagi hingga malam hari, kawasan Taman Pantai Piwang tak pernah benar-benar sepi. Deretan UMKM tampak mengisi sisi-sisi taman, mulai dari pedagang makanan dan minuman, mainan anak-anak, buah-buahan, hingga penjual kelinci dan ikan hias. Aktivitas ekonomi tumbuh seiring ramainya pengunjung yang datang menikmati ruang publik tersebut.

Salah satunya adalah Randy (30), penjual ikan hias yang telah lama menggantungkan penghidupannya di sekitar Pantai Piwang. Ia menjajakan berbagai jenis ikan hias, seperti glowfish, cupang, dan aneka ikan hias lainnya yang menarik perhatian anak-anak.

Randy bercerita, awalnya ia mencoba berjualan di Pasar Ranai. Namun hasilnya tak seberapa.
“Kurang laku kalau di pasar. Soalnya yang belanja ke pasar itu kebanyakan ibu-ibu,” ujarnya.

Keputusan pindah berjualan ke kawasan Pantai Piwang menjadi titik balik.
“Tapi kalau jualan ikan di Pantai Piwang ini, Alhamdulillah laris. Karena rata-rata orang ke sini bawa anak. Anak-anak itu banyak yang suka beli ikan hias,” jelasnya saat ditemui SinarPerbatasan.com.

Menurut Randy, jenis ikan seperti glowfish yang berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri.
“Apalagi ikan glowfish, kan warnanya mencolok dan beragam. Anak-anak suka,” tambahnya.

Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna di desain sebagai taman bermain yang sangat ramah anak dan nyaman bagi orang tua. (Foto : Erwin Prasetio)

Kisah Randy menambah deretan bukti bahwa pembangunan ruang publik berbasis kolaborasi melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Industri Hulu Migas bukan sekedar mempercantik wajah kota, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi rakyat. Dari petugas kebersihan hingga pelaku UMKM, Taman Pantai Piwang telah membuka ruang bagi masyarakat untuk bertumbuh dan bertahan, menghidupkan harapan di wilayah perbatasan yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Fakta lain yang tak kalah penting, Taman Pantai Piwang yang dilengkapi beragam wahana permainan anak dan fasilitas olahraga itu, juga dikenal sebagai salah satu ruang publik ramah anak yang ada di Bumi Laut Sakti Rantau Bertuah.

Ruang terbuka hijau ini tak hanya memberi tempat bermain, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak serta keluarga yang berkunjung. Area bermain yang terbuka, pengawasan alami dari pengunjung lain, serta lingkungan yang bersih menjadikan taman ini pilihan utama masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Hal tersebut diungkapkan Syamsuriana, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial, khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Menurut saya, Taman Pantai Piwang memang di desain sebagai ruang terbuka hijau yang sangat ramah anak,” ungkap Syamsuriana.

Menurutnya, keberadaan ruang publik yang aman dan inklusif seperti Taman Pantai Piwang, memiliki peran strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak, sekaligus memperkuat ikatan sosial antar warga. Terlebih di daerah perbatasan seperti Natuna, ruang-ruang publik yang sehat menjadi bagian penting dari pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Muhammad Atok Urrahman, saat meresmikan Ruang Terbuka Hijau Taman Pantai Piwang Natuna. Ia menegaskan bahwa pembangunan taman ini merupakan wujud nyata komitmen Industri Hulu Migas dalam menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan.

“Pembangunan Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang ini merupakan bagian dari komitmen SKK Migas bersama KKKS melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, agar kehadiran Industri Hulu Migas tidak hanya berkontribusi pada penerimaan negara, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Natuna,” ujar Muhammad Atok Urrahman, ketika meresmikan Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna, beberapa tahun lalu.

Menurutnya, ruang terbuka hijau ini diharapkan menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan rekreasi masyarakat, sekaligus mendorong tumbuhnya lapangan kerja dan UMKM lokal.

Terlihat anak-anak sangat senang bermain disekitar Taman Bermain yang ada di Ruang Terbuka Hijau Pantai Piwang Natuna. (Foto : Erwin Prasetio)

“Kami ingin fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat, menjadi ruang yang inklusif, ramah keluarga, ramah anak, serta mampu menggerakkan ekonomi rakyat di daerah perbatasan,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menyampaikan apresiasi atas kontribusi SKK Migas dan KKKS yang telah membangun berbagai fasilitas publik di wilayah Natuna, termasuk Ruang Terbuka Hijau Taman Pantai Piwang. Menurutnya, kolaborasi tersebut telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.

“Kami sangat mengapresiasi peran SKK Migas dan KKKS yang telah berkontribusi membangun Taman Pantai Piwang. Kehadiran ruang terbuka hijau ini tidak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari ruang rekreasi keluarga, tempat berkumpul warga, hingga penggerak ekonomi UMKM,” ujar Cen Sui Lan.

Ia menegaskan, ke depan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna berkomitmen untuk terus melakukan pembenahan dan peningkatan fasilitas di kawasan tersebut.

“Ke depan, pemerintah daerah akan terus memperbaiki dan menambah fasilitas pendukung agar Taman Pantai Piwang semakin nyaman dan representatif. Kami ingin kawasan ini menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat, ruang rekreasi yang aman dan ramah keluarga, sekaligus lokasi pendukung kegiatan pemerintahan,” pungkasnya. (Erwin Prasetio)

 

 

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini