Produksi Melejit! Intervensi Sumur Banyu Urip A07 Tambah 7.500 BOPD, Lampaui Target Tujuh Kali Lipat

0
6
Google search engine

Bojonegoro, SinarPerbatasan.com – Kabar menggembirakan datang dari Lapangan Banyu Urip. Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) berhasil mendongkrak produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 secara signifikan melalui program Well Services (WS) dengan metode Water Shut-Off (WSO).

Hasilnya luar biasa. Produksi sumur yang sebelumnya berada di angka 4.800 barel minyak per hari (BOPD) melonjak menjadi 12.300 BOPD. Artinya, terjadi peningkatan sebesar 7.500 BOPD — jauh melampaui target awal yang hanya diproyeksikan 1.000 BOPD.

Optimalisasi Tanpa Pengeboran Baru

Program WSO dilakukan untuk menghentikan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur, sehingga produksi minyak menjadi lebih optimal. Dalam pelaksanaannya, EMCL menerapkan kombinasi teknologi seperti pemasangan bridge plug, re-perforation, dan stimulasi acidizing.

Menariknya, seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation), melainkan memanfaatkan unit wireline. Pendekatan ini membuat proses lebih cepat, efisien, dan hemat biaya.

Dari sisi anggaran, realisasi biaya hanya mencapai sekitar 57 persen dari total anggaran yang telah disetujui. Capaian ini menunjukkan efektivitas perencanaan dan eksekusi program.

Kontribusi Strategis untuk Lifting Nasional

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Sebagai salah satu tulang punggung produksi minyak nasional, setiap tambahan barel dari Lapangan Banyu Urip memiliki dampak strategis terhadap ketahanan energi Indonesia.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan tersebut.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi signifikan dalam waktu relatif singkat. Optimalisasi sumur eksisting terbukti mampu langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa efisiensi waktu dan biaya menjadi nilai tambah penting dalam program ini. Praktik baik seperti ini, menurutnya, perlu direplikasi di lapangan lain guna mempercepat pencapaian target lifting nasional.

Strategi Cost-Effective yang Patut Direplikasi

Keberhasilan Well Services di Sumur Banyu Urip A07 menegaskan bahwa optimalisasi sumur eksisting merupakan strategi konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan produksi nasional.

Dengan inovasi teknologi yang tepat, sektor hulu migas mampu menghadirkan tambahan produksi secara berkelanjutan tanpa harus selalu bergantung pada pengeboran sumur baru, sekaligus memperkuat ketahanan dan ketersediaan energi Indonesia ke depan. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini