
Natuna, SinarPerbatasan.com – Di ujung utara Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tepatnya di Desa Air Lengit, Kecamatan Bunguran Tengah, kehidupan berjalan dalam ritme sederhana, ladang, kebun, dan jarak yang memisahkan warga dari layanan kesehatan. Dari tempat yang jauh dari pusat pemerintahan di Ranai itu, harapan sering kali harus menempuh perjalanan panjang, bahkan tak jarang tertunda karena keterbatasan akses dan kesibukan sehari-hari.
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun TNI AU ke-80, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara melalui Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna, memilih untuk tidak memusatkan kegiatan di jantung ibu kota Kabupaten yang telah memiliki fasilitas kesehatan memadai, seperti RSUD Natuna dan RSAU dr. Yuniati Wisma Karyani. Sebaliknya, pengabdian itu diarahkan ke Desa Air Lengit, sebuah wilayah yang belum memiliki puskesmas sendiri. Akses layanan kesehatan terdekat berada di Desa Harapan Jaya, jaraknya cukup jauh dan tidak selalu mudah dijangkau oleh warga.
Di sisi lain, mayoritas masyarakat Air Lengit adalah petani, yang menggantungkan hidup dari ladang. Rutinitas yang padat, kerap membuat mereka menunda bahkan mengabaikan pemeriksaan kesehatan, memilih bertahan dengan rasa sakit daripada meninggalkan pekerjaan. Kondisi inilah yang mengetuk nurani para ksatria udara untuk tidak menunggu, melainkan hadir langsung menjangkau masyarakat.
Melalui kegiatan bakti sosial berupa pengobatan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis, TNI AU menghadirkan makna pengabdian yang sesungguhnya, sejalan dengan semangat TNI AU AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis). Mereka datang bukan hanya membawa layanan medis, tetapi juga kepedulian, memastikan bahwa masyarakat di perbatasan tetap merasakan kehadiran negara.

Di Desa Air Lengit, pengabdian itu menjadi nyata, ketika jarak tak lagi menjadi penghalang, dan negara benar-benar hadir. Bukan di pusat keramaian, melainkan di tempat yang paling membutuhkan.
“Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian TNI AU dalam memberikan manfaat langsung, sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat,” ujar Komandan Lanud RSA Natuna, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., Selasa (07/04/2026) pagi, disela kegiatan bakti sosial.
Danlanud RSA Natuna menjelaskan, kegiatan ini menjadi upaya nyata TNI AU dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Natuna. Tercatat sebanyak 252 pasien mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 177 pasien pengobatan umum dan 75 pasien THT, yang seluruhnya mendapatkan pelayanan secara gratis.
Keluhan yang ditangani pun mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat setempat, mulai dari myalgia atau nyeri otot akibat aktivitas fisik di ladang, hingga penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, asam urat, kolesterol, serta nyeri sendi. Selain itu, tim medis juga menangani kasus tonsilitis kronis, rinitis alergi, otitis media supuratif kronis (OMSK), hingga pembersihan serumen yang kerap mengganggu pendengaran warga.
Tak hanya dari Air Lengit, pelayanan ini juga menjangkau desa sekitar. Sebanyak 159 pasien berasal dari Air Lengit, 45 orang dari Desa Tapau, dan 48 lainnya dari Desa Harapan Jaya, menunjukkan bahwa kehadiran TNI AU benar-benar menjadi magnet harapan bagi masyarakat di kawasan tersebut.
“Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian nyata TNI AU kepada masyarakat. Lebih dari sekedar peringatan, momentum ini menjadi pengingat bahwa kekuatan udara Indonesia tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga hadir menyentuh kehidupan rakyat hingga ke pelosok negeri,” tegas Onesmus Gede Rai Aryadi.

Di balik hadirnya layanan kesehatan di tengah keterbatasan Desa Air Lengit, pelaksanaan pengobatan massal ini tidak berdiri sendiri. Kegiatan tersebut menjadi wujud sinergi lintas instansi, dengan melibatkan tim medis dari RSAU dr. Yuniati Wisma Karyani, tenaga kesehatan dari Puskesmas Bunguran Tengah, serta dukungan fasilitas kesehatan dari Lanal Ranai.
Kolaborasi ini menghadirkan kekuatan bersama, di mana setiap unsur mengambil peran untuk memastikan pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat hingga ke pelosok, mempertegas bahwa pengabdian di wilayah perbatasan adalah kerja kolektif, demi menghadirkan negara secara nyata di tengah kehidupan rakyat.
Di antara ratusan warga yang datang, kisah Rosda Wati (60) menjadi potret paling menyentuh. Warga Desa Air Lengit itu tak mampu menahan air mata saat digotong anggota TNI AU usai berobat. Tiga tahun lalu, ia kehilangan satu kaki akibat komplikasi diabetes yang tak pernah diperiksakan secara rutin, sebuah penyesalan yang kini ia jalani setiap hari.
“Kalau dulu saya rajin cek kesehatan, mungkin tidak sampai seperti ini,” ucap Rosda Wati, lirih menahan haru.
Bagi Rosda, kehadiran pengobatan massal ini bukan sekadar layanan kesehatan, melainkan wujud kepedulian yang membuatnya merasa tidak sendiri. Dari keterbatasannya, ia menitipkan pesan sederhana namun mendalam, “Jangan tunggu sakit parah dulu baru berobat”.

Kisah Rosda menjadi cermin nyata bagi banyak warga, bahwa penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol kerap datang perlahan dan diabaikan, hingga akhirnya terlambat.
Selain Rosda Wati, kisah lain datang dari Kesuma Dimejo (60), warga Desa Harapan Jaya, yang memancarkan wajah lega usai menjalani pemeriksaan kesehatan. Dengan nada sederhana namun penuh syukur, ia berkata, “Sudah cek tensi, alhamdulillah normal,”.
Bagi Kesuma, kehadiran pengobatan massal ini bukan hanya sebatas layanan medis, melainkan kemudahan yang selama ini sulit didapatkan, terutama bagi warga lanjut usia (lansia) yang terkendala jarak dan transportasi menuju fasilitas kesehatan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak desa.
“Banyak orang tua disini yang tidak punya kendaraan untuk berobat,” ungkap Kesuma Dimejo, pelan.
Dari pengakuannya, tergambar jelas bahwa layanan yang hadir langsung ke tengah masyarakat seperti ini bukan hanya membantu secara medis, tetapi juga menghadirkan rasa diperhatikan, sebuah bentuk kepedulian yang begitu berarti bagi warga di pelosok Kabupaten Natuna.

Kegiatan pengobatan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar TNI AU ini, mendapat apresiasi dan ucapan terimakasih dari Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna, serta dari Pemerintah Desa Air Lengit. Bupati Natuna, melalui Sekda Natuna, Boy Wijanarko Varianto megungkapkan, bahwa bakti sosial ini menurutnya sangat membantu masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan, karena lokasi yang jauh dan terbatasnya fasilitas medis di wilayah perbatasan.
“Ini adalah bentuk nyata sinergi antara TNI AU dan pemerintah daerah untuk memastikan kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan tidak terabaikan. Kami sangat mengapresiasi langkah TNI AU yang turun langsung memberikan pelayanan kesehatan, terutama bagi warga di desa-desa terpencil seperti Air Lengit,” ujar Boy Wijanarko Varianto, yang ikut meninjau langsung kegiatan tersebut.
Terpisah, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, S.E., M.M, mengungkapkan, bahwa kegiatan bakti sosial kemanusiaan seperti pengobatan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis ini, merupakan wujud nyata dari semangat pengabdian TNI AU kepada rakyat.
“Dalam rangka HUT ke-80 TNI AU, kami ingin menunjukkan bahwa pengabdian TNI AU tidak mengenal batas. Memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat dimanapun mereka berada, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk hadir dekat dengan rakyat,” ujar Kasau Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, ketika menghadiri bakti sosial TNI AU di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (31/03/2026) lalu.
Ia menambahkan, melalui program ini, TNI AU berharap dapat meringankan beban masyarakat sekaligus membangun kepercayaan dan kedekatan yang lebih erat antara TNI AU dan warga.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa TNI AU selalu siap membantu, bukan hanya dalam tugas pertahanan negara, tapi juga dalam hal-hal kemanusiaan. Sejalan dengan tema HUT ke-80 ‘Pengabdian Tanpa Batas, TNI AU AMPUH, Indonesia Maju’, kami berkomitmen untuk terus hadir bagi rakyat, kapan pun dan di mana pun dibutuhkan,” tambahnya, dengan nada hangat.
Kegiatan pengobatan massal yang diprakarsai TNI AU ini pun diharapkan menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa kepedulian bersama, sekaligus menguatkan semangat gotong-royong antara TNI dan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini minim akses layanan kesehatan.
Sebagai informasi tambahan, kehadiran TNI AU di Kabupaten Natuna bukan hanya sebatas momen tertentu. Ksatria udara ini selalu dapat diandalkan ketika warga perbatasan membutuhkan pertolongan medis. Mulai dari donor darah, layanan kesehatan, hingga evakuasi pasien kritis, TNI AU tak segan mengerahkan armadanya, termasuk pesawat PAUM, untuk membawa pasien dari Natuna ke fasilitas kesehatan di luar daerah.
Bahkan, pesawat Hercules dari Bandara Lanud Raden Sadjad Ranai, kerap digunakan untuk memastikan warga mendapatkan penanganan medis yang cepat dan aman, membuktikan bahwa TNI AU hadir bukan hanya sebagai pengawal udara, tetapi juga sebagai sahabat dan pelindung masyarakat di wilayah perbatasan yang dikenal dengan wilayah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (3T).
Penulis : Erwin Prasetio












