
Natuna, SinarPerbatasan.com – Di tengah duka yang menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat bencana alam, harapan datang dari beranda utara Indonesia. Dari Kabupaten Natuna, kepedulian masyarakat berpadu dengan dedikasi TNI Angkatan Udara dalam sebuah rangkaian aksi kemanusiaan yang konsisten, nyata, dan berkelanjutan.
Semangat TNI AU AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis) yang menjadi visi Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, S.E., M.M., terwujud melalui peran aktif Pangkalan TNI AU Raden Sadjad (Lanud RSA) Natuna dalam memfasilitasi pengiriman bantuan bencana ke wilayah Sumatera.
Pengiriman Perdana: Amanah Kemanusiaan 1,5 Ton
Aksi kemanusiaan ini diawali pada Kamis, 4 Desember 2025, saat Lanud RSA memberangkatkan 1.567 kilogram bantuan berupa pakaian layak pakai hasil donasi masyarakat Natuna. Bantuan tersebut diangkut menggunakan pesawat CN-295 TNI AU tail number A-2903 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma.
Pesawat diawaki Kapten Pnb Ryan Parafoila, Lettu Pnb Ekhatulistiwa Yudha, dan Letda Pnb M. Raihan Ananta, membawa bukan hanya sebatas logistik, tetapi juga empati dari masyarakat Natuna. Bantuan diteruskan melalui Lanud Halim Perdanakusuma untuk disalurkan ke daerah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Gelombang Kedua: Solidaritas 5,5 Ton Menyatukan Elemen Daerah
Solidaritas Natuna kembali menggema sepekan kemudian. Pada Kamis, 11 Desember 2025, Lanud RSA memfasilitasi pengiriman 5,5 ton bantuan kemanusiaan menggunakan pesawat Hercules C-130 A-1318 dari Skadron Udara 31.
Pengiriman ini dipimpin langsung Komandan Lanud RSA Marsma TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han, didampingi Bupati Natuna Cen Sui Lan, serta jajaran Forkopimda. Bantuan terdiri dari pakaian layak pakai, sembako, perlengkapan bayi, makanan instan, obat-obatan, dan kebutuhan harian lainnya, yang merupakan hasil dari penggalangan masyarakat dan aktivis Natuna.
“Lanud RSA selalu siap mendukung setiap penyaluran bantuan dari masyarakat Natuna. Ini adalah bentuk kepedulian bersama,” tegas Danlanud RSA.
Pengiriman Ketiga: 6,4 Ton Kepedulian Berkelanjutan

Komitmen kemanusiaan Lanud RSA berlanjut hingga awal tahun. Pada Minggu, 4 Januari 2026, bantuan kemanusiaan ketiga kembali diberangkatkan dengan total 6.475 kilogram (6,4 ton) menggunakan pesawat Hercules C-130 A-1332 milik Skadron Udara 33 Lanud Hasanuddin.
Bantuan berasal dari donasi masyarakat Natuna melalui Posko Relawan Prawiro DPC Natuna, berupa air minum, bahan makanan, dan pakaian layak pakai. Seluruh bantuan diterbangkan menuju Posko BNPB di Lanud Halim Perdanakusuma, sebelum disalurkan ke wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Total Bantuan: 13,5 Ton untuk Saudara di Sumatera
Dari tiga tahap pengiriman tersebut, total bantuan kemanusiaan yang difasilitasi TNI AU melalui Lanud RSA Natuna mencapai 13.542 kilogram atau sekitar 13,5 ton. Angka ini menjadi bukti nyata konsistensi sinergi antara TNI AU, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat Natuna.
Lebih dari sekedar logistik, bantuan ini merepresentasikan nilai kemanusiaan, gotong-royong, dan kepedulian lintas wilayah. Dari apron Lanud RSA, bantuan-bantuan itu terbang menembus langit Nusantara, mengantar harapan, menguatkan solidaritas, dan menegaskan bahwa TNI Angkatan Udara hadir bukan hanya menjaga kedaulatan udara, tetapi juga menyentuh hati rakyatnya.
Doa dan Kepedulian TNI AU untuk Korban Bencana

Di balik deru pesawat yang mengangkut bantuan kemanusiaan menuju wilayah terdampak bencana di Sumatera, TNI Angkatan Udara juga menghadirkan kepedulian yang lebih sunyi namun penuh makna, yaitu doa.
Mengawali tahun 2026, keluarga besar Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna berkumpul dalam doa bersama lintas agama, memanjatkan harapan dan ketulusan bagi saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang tengah menghadapi ujian bencana alam. Suasana khidmat menyelimuti Masjid Mina Lanud RSA, Ruang Rapat Mako Lanud RSA, hingga Aula RSAU, tempat doa dipanjatkan sesuai keyakinan masing-masing.
Komandan Lanud Raden Sadjad, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., menegaskan bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya diwujudkan melalui pengiriman logistik, tetapi juga melalui kekuatan spiritual dan empati.
“Selain bantuan yang kami kirimkan, kami juga mengirimkan doa terbaik dari Natuna untuk saudara-saudara kita di Sumatera. Semoga mereka diberi kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujar Danlanud RSA dengan penuh harap.
Ia menambahkan, doa bersama ini menjadi pengingat bahwa prajurit TNI AU dan seluruh keluarga besar Lanud RSA, adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang turut merasakan duka sesama.
“Kami ingin seluruh personel memaknai akhir tahun dengan refleksi dan kepedulian. Apa yang kita lakukan hari ini adalah wujud kebersamaan dan rasa kemanusiaan,” sambungnya.
Sementara itu Kepala Dinas Personel Lanud RSA Letkol Adm Yuli Afrizan, S.Sos., juga mengajak seluruh personel menjadikan momen doa bersama sebagai penguat solidaritas. Di bawah pimpinan Kabintalid Lanud RSA Letda Sus Jafar Yahya, S.Pd., doa dipanjatkan dengan khusyuk, mengalirkan harapan agar bencana segera berlalu dan masyarakat terdampak dapat bangkit kembali.
Melalui doa dan aksi nyata, TNI Angkatan Udara membuktikan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak hanya diwujudkan dengan kekuatan alutsista dan operasi udara, tetapi juga dengan ketulusan hati.
Dari Natuna, bantuan dan doa terus dikirimkan, menyentuh langit dan mengetuk nurani, sebagai bagian dari semangat TNI AU AMPUH yang humanis dan selalu hadir untuk rakyat.
TNI AU Jaga Alam, Jaga Masa Depan

Selain mengirimkan bantuan logistik dan memanjatkan doa bagi para korban bencana alam di Sumatera, TNI Angkatan Udara juga mewujudkan kepeduliannya melalui aksi nyata yang bersifat jangka panjang.
Di ujung utara NKRI, Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna terus menanamkan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai benteng utama pencegahan bencana.
Melalui kegiatan penanaman puluhan ribu pohon mangrove, TNI AU di ujung utara NKRI berupaya melindungi wilayah pesisir Natuna dari ancaman abrasi dan banjir, sekaligus memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Mangrove dipilih bukan sebatas simbol penghijauan, tetapi sebagai pelindung alami pulau yang mampu meredam gelombang, menahan erosi, serta menjaga keseimbangan ekosistem laut dan darat.
Aksi ini juga menjadi refleksi atas bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, yang disinyalir tidak lepas dari rusaknya keseimbangan alam akibat penebangan hutan secara masif.
Alam yang kehilangan pelindungnya, pada akhirnya menunjukkan “amarah” melalui banjir, longsor, dan berbagai bencana lainnya. Dari Natuna, Lanud RSA ingin mengingatkan bahwa menjaga alam bukan pilihan, melainkan kebutuhan bersama.
Bagi Lanud RSA Natuna, menanam pohon berarti menanam harapan. Harapan agar Pulau Natuna tetap lestari, aman, dan mampu melindungi seluruh makhluk hidup yang bergantung padanya.
Kegiatan penanaman mangrove ini pun bukan aksi sesaat, melainkan komitmen berkelanjutan yang telah dilakukan Lanud RSA selama beberapa tahun terakhir, sebagai bagian dari pengabdian TNI AU kepada masyarakat dan lingkungan.
Melalui rangkaian doa, bantuan kemanusiaan, dan aksi pelestarian alam, TNI Angkatan Udara menegaskan kehadirannya tidak hanya sebagai penjaga kedaulatan udara, tetapi juga sebagai mitra rakyat dalam menjaga kehidupan, alam, dan masa depan Indonesia.
Pesan Panglima Koopsud: TNI AU Hadir dengan Kekuatan dan Empati untuk Rakyat

Sebagai penutup rangkaian kepedulian dan refleksi akhir tahun, pesan kemanusiaan juga mengalir dari mimbar upacara di Lanud Raden Sadjad. Melalui amanat Panglima Koops Udara Nasional Marsekal Madya TNI Minggit Tribowo, yang dibacakan Komandan Lanud RSA Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, seluruh prajurit diingatkan bahwa kekuatan udara TNI AU tidak hanya diukur dari kesiapan alutsista, tetapi juga dari kepekaan nurani.
Panglima menyampaikan apresiasi atas pengabdian personel sepanjang tahun, sekaligus menyuarakan empati mendalam bagi masyarakat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang tengah berjuang menghadapi bencana.
Di tengah dinamika tugas dan perkembangan teknologi, Panglima menegaskan pentingnya tetap adaptif, profesional, dan mengutamakan keselamatan, seraya mengajak seluruh prajurit menutup tahun dengan keimanan, solidaritas, dan semangat melayani masyarakat.
Pesan ini seolah merangkum makna kehadiran TNI AU, menjaga kedaulatan udara, sekaligus selalu hadir dan peduli pada setiap duka yang dirasakan oleh rakyat Indonesia.
Masyarakat Natuna Bersyukur, TNI AU Hadir Membawa Harapan

Rasa syukur dan terima kasih juga mengalir dari masyarakat Natuna yang turut terlibat dalam penggalangan bantuan. Sirojuddin, aktivis sekaligus Ketua Relawan Prawiro DPC Natuna, menyampaikan apresiasi atas peran TNI Angkatan Udara, khususnya Lanud Raden Sadjad, dalam memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke tangan saudara-saudara di Sumatera.
“Kami sangat berterima kasih kepada TNI AU, khususnya Lanud RSA, yang telah memfasilitasi penyaluran bantuan dari masyarakat Natuna. Bantuan ini bukan hanya logistik, tapi juga tanda kepedulian dan solidaritas yang nyata. Rasanya hati kami hangat melihat empati prajurit TNI AU sampai ke saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera,” ujar Sirojuddin, dengan mata berbinar penuh haru.
Ucapan terima kasih ini menjadi penegasan bahwa aksi kemanusiaan TNI AU bukan hanya soal operasi dan pesawat yang mengangkut logistik, tetapi juga tentang menyatukan hati masyarakat, membangun empati, dan menghadirkan harapan di tengah duka.
Dari Natuna hingga Sumatera, kepedulian yang tulus ini menjadi bukti nyata bahwa TNI AU hadir bukan hanya menjaga langit, tetapi juga menyentuh hati rakyatnya. (Erwin Prasetio)













