Dapur Sehat, Harapan Baru dari Desa, Semangat Kolaborasi Atasi Stunting di Buton Tengah

0
118
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk P2KB Buton Tengah, Erly, bersama staf dan pendamping menyajikan makanan sehat mengatasi stunting
Google search engine

SINARPERBATASAN.COM, BUTON TENGAH — Di  sebuah rumah sederhana di jantung Desa Boneoge, aroma sayur bening, ikan bakar, dan daun kelor rebus berpadu dengan tawa para ibu. Pagi itu, bukan sekadar memasak yang mereka lakukan. Di antara wajan dan ulekan, tersimpan semangat baru: menyiapkan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak mereka.

Itulah suasana yang mewarnai Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) — gerakan yang kini tumbuh menjadi simbol harapan dari desa-desa di Kabupaten Buton Tengah. Program ini diinisiasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 2021, dan di Buton Tengah dihidupkan kembali lewat sentuhan lokal oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB).

Lewat program pembekalan yang digelar di Kampung Keluarga Berkualitas, para kader PKK, tenaga kesehatan, hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK) dilatih menjadi penggerak utama pencegahan stunting di kampung mereka.

Erly, SE, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, mengatakan bahwa pembekalan DASHAT bukan hanya tentang gizi, tetapi tentang membangun kesadaran baru di tengah masyarakat.

“Kita ingin setiap keluarga bisa memanfaatkan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka. Jadi bukan sekadar teori, tapi benar-benar praktik dari dapur sendiri,” ujarnya.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Di tiap desa, suasananya hampir sama: ibu-ibu datang membawa bahan pangan lokal dari rumah — ubi, ikan laut, daun kelor, dan pisang. Mereka belajar menyusun menu sehat bagi balita dan ibu hamil, belajar mengenali tekstur makanan bayi, dan memahami bahwa gizi seimbang bisa dimulai dari bahan yang tumbuh di kebun sendiri.

Program ini sekaligus menjadi ruang belajar dan kebersamaan. Para kader DASHAT tak hanya memasak, tapi juga berdiskusi, saling memberi pengalaman, dan menyemangati sesama ibu yang menghadapi tantangan serupa di rumah masing-masing.

Fahriah Marsiful, salah satu pendamping kegiatan, menyebut bahwa gerakan ini perlahan menumbuhkan rasa percaya diri para ibu di kampung.

“Kami ingin ibu-ibu di kampung tak hanya tahu gizi, tapi bisa mengolah makanan sehat dari apa yang mereka miliki. Dari dapur sederhana, perubahan itu bisa dimulai,” katanya.

Dinas P2KB Buton Tengah berharap semangat ini bisa menular dari satu kampung ke kampung lain. Karena bagi mereka, pencegahan stunting bukan hanya urusan program pemerintah, tetapi gerakan sosial yang lahir dari dapur setiap rumah.

Dari desa-desa kecil di pesisir hingga dataran tinggi Lakudo, DASHAT telah menjadi jembatan antara ilmu, empati, dan kebersamaan. Sebuah bukti bahwa perubahan besar kadang lahir dari hal yang paling sederhana — dari tangan-tangan ibu yang memasak dengan cinta. (Advetorial)

Reporter: Sadly

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini