Mengulik Sejarah Pantai Batu Kasah, dari Kebun Kelapa Sunyi menjadi Ikon Wisata Natuna

0
107
Salah seorang pengunjung sedang menikmati keindahan alam di taman wisata Pantai Batu Kasah, Natuna. (Foto : Erwin Prasetio)
Google search engine

Natuna, SinarPerbatasan.com – Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Desa Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, sebuah destinasi wisata perlahan mencuri perhatian publik. Pantai Batu Kasah kini dikenal sebagai salah satu objek wisata paling diminati di daerah yang dijuluki Mutiara di Ujung Utara Indonesia. Pengelolaannya yang terbilang maksimal membuat pantai ini mampu bersaing dengan berbagai destinasi lain di Natuna, bahkan menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Namun siapa sangka, sebelum dikenal luas seperti sekarang, kawasan Pantai Batu Kasah dulunya hanyalah hamparan kebun kelapa yang dipenuhi semak belukar dan tidak terurus. Lahan tersebut sempat terbengkalai karena kurangnya perhatian dari para pemiliknya.

“Ini dulu kebun kelapa, semak tak terurus. Kami melihat ada potensi yang sayang kalau dibiarkan,” ujar Abdillah, mengenang kondisi awal kawasan tersebut saat masih jauh dari sentuhan pengelolaan wisata, Rabu (08/04/2026) kepada awak media sinarperbatasan.com.

Perubahan besar itu mulai terjadi pada tahun 2024, ketika muncul gagasan dari masyarakat setempat untuk membuka kawasan tersebut menjadi objek wisata. Ide itu kemudian disambut baik oleh tujuh pemilik lahan yang berada di kawasan Pantai Batu Kasah.

“Tahun 2024 kita punya ide untuk membuka tempat wisata. Kami runding dengan para pemilik lahan, dan mereka sepakat,” tambah Abdillah.

Seorang anak terlihat begitu terpesona menyaksikan panorama alam yang tersaji di taman wisata Pantai Batu Kasah, Natuna. (Foto : Erwin Prasetio)

Dari kesepakatan sederhana itulah, Pantai Batu Kasah kini bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata baru di Natuna, menghadirkan pesona alam yang memikat sekaligus menjadi bukti, bahwa potensi lokal dapat berkembang pesat jika dikelola dengan baik.

Abdillah, salah satu sosok di balik lahirnya Pantai Batu Kasah, menuturkan bahwa proses perubahan kawasan itu tidaklah mudah. Pada awalnya, akses menuju pantai tersebut nyaris tidak memadai.

“Dulu belum ada jalan, hanya jalan setapak yang sulit dilalui kendaraan,” kenangnya.

Kondisi itu sempat menjadi tantangan besar, hingga akhirnya pada tahun yang sama digelar kegiatan padat karya untuk membersihkan lahan, dengan dukungan dari pemerintah daerah Kabupaten Natuna.

Melalui gotong royong dan keterlibatan masyarakat, kawasan yang sebelumnya dipenuhi semak belukar perlahan mulai terbuka. Setelah lahan dibersihkan, Abdillah bersama timnya mulai memikirkan bagaimana menghadirkan daya tarik visual yang berbeda. Ia pun berinisiatif mengganti hamparan rumput liar dengan rumput jepang, agar kawasan pantai terlihat lebih rapi dan estetis.

“Rumput jepang itu saya bawa dari Tanjungpinang hanya sekitar tiga meter persegi, lalu saya kembangkan jadi sebanyak sekarang ini,” tutur Abdillah.

Dari langkah kecil tersebut, wajah Pantai Batu Kasah semakin berubah, menjadi ruang terbuka hijau yang tertata, sekaligus memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata yang tidak hanya mengandalkan panorama laut, tetapi juga sentuhan kreativitas warganya.

Gerbang masuk ke objek wisata Pantai Batu Kasah, Natuna (Foto : Erwin Prasetio)

Perkembangan Pantai Batu Kasah yang kian pesat, akhirnya menarik perhatian pemerintah daerah. Dalam beberapa tahun berikutnya, Pemerintah Kabupaten Natuna mulai memandang pentingnya peningkatan akses menuju lokasi wisata tersebut. Jalan menuju pantai yang sebelumnya sulit dilalui perlahan dibuka melalui pembangunan pengerasan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer, membuka keterisolasian kawasan itu dari pusat aktivitas warga.

Tidak berhenti di situ, peningkatan infrastruktur terus berlanjut. Beberapa tahun setelahnya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau turut mengambil peran dengan membangun jalan hotmix atau aspal. Kini, akses menuju Pantai Batu Kasah sudah mulus dan jauh lebih mudah dilalui, seolah menjadi penanda perubahan besar yang dialami kawasan tersebut dari waktu ke waktu.

Transformasi ini tidak hanya mengubah wajah Pantai Batu Kasah sebagai destinasi wisata, tetapi juga membawa dampak yang lebih luas bagi Desa Cemaga Tengah. Kehadiran objek wisata ini memicu efek domino berupa pembangunan infrastruktur dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Warga sekitar pun ikut merasakan manfaatnya, dari peluang usaha hingga meningkatnya kesejahteraan, menjadikan Pantai Batu Kasah bukan sekedar tempat wisata, melainkan sumber harapan baru bagi kehidupan lokal.

Pengakuan terhadap Pantai Batu Kasah sejatinya telah dimulai jauh sebelum kawasan ini ramai dikunjungi seperti sekarang. Pada akhir tahun 2018, Pantai Batu Kasah resmi ditetapkan sebagai salah satu geosite dalam Geopark Natuna oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), bersama tujuh geosite lainnya seperti Gunung Ranai, Pulau Senoa, Tanjung Datuk, Pulau Akar, Goa dan Pantai Batu Kamak, Pulau Setanau, serta Tanjung Senubing (Batu Sindu). Penetapan ini menjadi tonggak penting yang menegaskan nilai geologi, sekaligus potensi wisata yang dimiliki kawasan tersebut.

Sejak menyandang status sebagai bagian dari taman bumi warisan geologi yang berfungsi sebagai pusat edukasi alam dan wisata berkelanjutan, perhatian terhadap Pantai Batu Kasah pun semakin besar. Berbagai pihak mulai ambil bagian dalam pengembangannya, mulai dari lembaga negara hingga BUMN dan sektor swasta. Dukungan itu datang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Bank BNI, SKK Migas dan KKKS, hingga Pegadaian, yang turut berkontribusi dalam pembangunan dan penataan kawasan wisata ini.

Anak-anak tampak senang dan gembira bermain paddle board di Pantai Batu Kasah, Natuna. (Foto : Erwin Prasetio)

Kini, Pantai Batu Kasah telah bertransformasi menjadi destinasi yang lebih tertata dan ramah pengunjung. Sejumlah fasilitas pendukung pun telah tersedia, mulai dari pintu gerbang yang megah, pondok informasi wisata, mushala, kamar mandi, kamar bilas, hingga WC dan berbagai sarana lainnya.

Kehadiran fasilitas tersebut semakin memperkuat daya tarik Pantai Batu Kasah sebagai destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kenyamanan bagi setiap pengunjung.

Abdillah juga mengungkapkan, bahwa upaya pengembangan Pantai Batu Kasah sebenarnya telah dirintis bahkan sebelum kawasan ini ramai dikenal seperti sekarang. Melalui BUMDes Indah Jaya Desa Cemaga Tengah, pada tahun 2017 masyarakat mulai membangun sejumlah fasilitas sederhana untuk menunjang kenyamanan pengunjung.

“Sebelumnya, di tahun 2017 kami melalui BUMDes sudah membangun gazebo dan kantin untuk pengunjung. Gazebo itu kami sewakan sebagai salah satu sumber pemasukan,” tutur Abdillah.

https://www.sinarperbatasan.com/wp-content/uploads/2024/03/WhatsApp-Image-2024-03-20-at-21.06.11-6.jpeg

Ia menjelaskan, pengelolaan tersebut tidak hanya bertujuan untuk mendukung operasional wisata, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi desa.

“Dari hasil sewa gazebo dan kantin, 20 persennya kami masukkan ke kas desa sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes),” lanjutnya.

Sejumlah wisatawan tampak menikmati fasilitas di geosite Pantai Batu Kasah, Natuna. (Foto : Instagram Desa Wisata Cemaga Tengah)

Bagi Abdillah, langkah itu menjadi bukti bahwa keberadaan Pantai Batu Kasah tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi dan memperkuat kemandirian Desa Cemaga Tengah, yang kini dikenal sebagai desa wisata.

Agar pengelolaan tidak tumpang tindih, Abdillah menyebutkan bahwa saat ini sistem pengelolaan Pantai Batu Kasah telah mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya dikelola melalui BUMDes, kini pengelolaan usaha wisata sepenuhnya diserahkan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cemaga Tengah.

“Sekarang pengelolaan wisata sudah kita serahkan ke Pokdarwis, supaya lebih fokus dan tidak tumpang tindih,” ujar Abdillah.

Menurutnya, langkah ini diambil agar setiap lembaga dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendorong perkembangan desa.

Sementara itu, BUMDes kini diarahkan untuk lebih fokus pada pengembangan usaha desa lainnya, terutama di sektor ketahanan pangan. Dengan pembagian peran yang jelas, Abdillah berharap pengelolaan Pantai Batu Kasah semakin profesional, sekaligus tetap memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Cemaga Tengah.

Di tangan Pokdarwis Desa Cemaga Tengah, pengelolaan Pantai Batu Kasah kini semakin berkembang dengan beragam pilihan usaha wisata. Tercatat, ada tiga bidang utama yang dikelola, mulai dari paket camping, paddling (paddle board), hingga tracking berupa paket bersepeda mengelilingi desa. Selain itu, terdapat pula satu paket gathering yang hingga kini masih dikelola oleh BUMDes Indah Jaya, sebagai bagian dari kolaborasi antar lembaga desa.

Pantai Batu Kasah selalu ramai dikunjugi wisatawan dari berbagai daerah, terutama saat hari libur akhir pekan maupun libur nasional. (Foto : Instagram Desa Wisata Cemaga Tengah)

Pengawas Pokdarwis Cemaga Tengah, Asmarika, menjelaskan bahwa sistem pembagian hasil usaha juga telah diatur secara jelas. Hal ini dilakukan agar pengelolaan tetap transparan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan desa.

“Hasil dari keuntungan usaha yang dikelola Pokdarwis, 10 persennya kita serahkan ke desa sebagai sumber PADes,” ujar Asmarika saat dihubungi, Selasa (14/04/2026).

Ia menambahkan, perbedaan persentase kontribusi tersebut didasarkan pada sumber permodalan masing-masing lembaga.

“Karena Pokdarwis tidak menggunakan Dana Desa sebagai modal. Berbeda dengan BUMDes yang menggunakan Dana Desa, sehingga keuntungannya dipotong 20 persen untuk desa,” jelas Asmarika.

Skema ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan pengelolaan sekaligus memastikan manfaat ekonomi dari Pantai Batu Kasah dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Desa Cemaga Tengah.

Selain mengandalkan berbagai paket usaha wisata, pengelola juga memperoleh pemasukan dari retribusi pengunjung. Setiap wisatawan yang datang dikenakan biaya kebersihan sebesar Rp2.000 per orang, yang digunakan untuk menjaga kelestarian dan kenyamanan kawasan Pantai Batu Kasah.

“Retribusi itu kami gunakan untuk biaya kebersihan, supaya kawasan pantai tetap terjaga dan nyaman bagi pengunjung,” ungkap pihak pengelola. Meski nominalnya terbilang kecil, kontribusi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung operasional harian, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan wisata.

Dengan sistem pengelolaan yang terus diperbaiki, mulai dari pembagian peran antar lembaga hingga sumber pemasukan yang beragam, Pantai Batu Kasah kini tidak hanya berkembang sebagai destinasi unggulan, tetapi juga sebagai contoh pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Natuna.

Terlihat pasangan artis atau publik figur nasional, Anang Hermansyah dan Ashanty, tengah menikmati kuliner dan pemandangan alam di objek wisata Pantai Batu Kasah, ditemani Kepala Dinas Pariwisata Natuna, Hardinansyah. (Foto : Dinas Pariwisata Natuna)

Dari pantauan media ini, Pantai Batu Kasah kini semakin menunjukkan popularitasnya sebagai salah satu destinasi unggulan di Bumi Laut Sakti Rantau Bertuah. Setiap harinya, terutama hari libur, kawasan wisata ini ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam daerah maupun luar daerah. Bahkan tidak sedikit pula wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati pesona alamnya yang khas.

Daya tarik Pantai Batu Kasah juga telah menarik perhatian sejumlah tokoh nasional dan publik figur. Beberapa di antaranya adalah pasangan artis Anang Hermansyah dan Ashanty, yang sempat berkunjung dan menikmati langsung keindahan kawasan tersebut. Tidak hanya itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, juga pernah menyambangi pantai ini dalam agenda kunjungan kerjanya.

Kehadiran para tokoh tersebut semakin menguatkan posisi Pantai Batu Kasah sebagai destinasi wisata yang mulai diperhitungkan di tingkat nasional. Dari kawasan kebun kelapa yang dahulu sunyi, kini Batu Kasah tumbuh menjadi ruang wisata yang hidup, ramai, dan semakin dikenal luas hingga ke luar batas Natuna.

Pantai Batu Kasah juga tergolong mudah diakses. Dari pusat ibu kota Kabupaten Natuna di Ranai, kawasan wisata ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 25–30 menit menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Kemudahan akses ini menjadi salah satu faktor yang turut mendukung meningkatnya kunjungan wisatawan ke destinasi yang terus berkembang tersebut.

Setibanya di lokasi, pengunjung akan disambut panorama alam yang memikat. Hamparan pasir putih yang luas berpadu dengan deburan ombak Laut Natuna Utara, serta gugusan batu granit berukuran raksasa yang menjadi ciri khasnya. Ditambah lagi dengan rindangnya pepohonan di sekitar pantai, suasana yang tercipta menghadirkan ketenangan sekaligus memanjakan mata siapa pun yang datang berkunjung.

Tak hanya menikmati pemandangan, pengunjung juga dapat mencicipi berbagai kuliner khas Natuna yang dijajakan di sekitar kawasan wisata. Sembari menikmati air kelapa segar dan hembusan angin pantai yang sejuk, suasana santai pun terasa semakin lengkap. Anak-anak pun dapat bermain di tepi pantai bahkan berenang dengan relatif aman, karena area perairan di Pantai Batu Kasah tidak dipenuhi karang tajam. Namun demikian, pengawasan orang tua tetap menjadi hal yang penting, demi menjaga keselamatan selama berwisata. (Erwin Prasetio)

 

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini